Kamis, 05 September 2019

Tentang Anak Kecil dan Uang Merahnya

Hari sudah beranjak sore. Anak kecil berbaju biru lusuh dengan celana pendek turun dari angkutan kota dekat terminal. Turunnya sedikit buru - buru lantas memberikan uang kepada supir angkutan umum tersebut. Gelagatnya tak apa, awalnya. Selepas kepergian anak kecil itu, sang supir ngetem sebentar mencari penumpang. Mesin mobilpun dimatikan.

Tak selang berapa lama. Anak itu kembali. Lantas mendongak ke kaca depan sang supir dengan wajah gelisah dan berkata, "Pak, tadi saya kasih uang berapa?" suaranya kecil sekali.

"Lima ribu," seloroh sang supir.

"Tidak saya kasih uang seratus, Pak? Karna ada uang seratus di kantong saya tadi," tanyanya harap - harap cemas.

Sang supir langsung saja menghardik si anak, "Heh, dibilang uangnya lima ribu ya lima ribu. Bisa - bisanya anak kecil kayak kau punya uang seratus."

Si anak berkulit sawo matang itu bergeming barangkali takut sebab sudah dihardik. Terlebih banyak orang lagi, penjual - penjual pinggir jalan matanya sudah memicing. Hal hebat apa yang sedang terjadi?

Diayunkan kakinya mundur lalu menunduk sambil keliling di sekitar angkutan umum tersebut. Wajahnya pias terlihat sekali sedang dirundung takut.

Penumpang hanya diam tentu saja tak tahu sebab-musabab. Sang supir menyalakan mesinnya saat itu lantas tancap gas meninggalkan TKP.

Dari kaca mobil, masih ada beberapa penumpang yang melihat gelagat si anak. Sepertinya sudah putus asa dan beranjak pulang dengan menyebrang jalan.

Situasi sudah kondusif tak ada percapakapan berarti. Entah sedang berpikir, sedang merenung akan nasib si anak tadi.

Setelah sekian lama. Beberapa penumpang turun digantikan penumpang baru. Sang supir membelokkan mobilnya ke pengisian bahan bakar minyak. Membuka pintu mobil lantas berkata, "Seratus ribu."

Selepas pengisian bahan bakar selesai. Supir itu mengeluarkan uang dari saku celana sebelah kanannya. Pas. Seratus ribu rupiah. Uangnya kusut barangkali akibat digenggam terlalu lama atau bisa jadi saat dimasukkan ke kantong di selipkan saja.

Tak ada yang sadar. Mungkin ada tapi memilih diam. Ah, betapa menyedihkannya nasib si anak. Hatinya gusar barangkali sang ibu sedang menunggu di rumah. Senyum sudah terkembang di wajah indahnya. Ah, membayangkannya saja sudah sakit.

Kisah sore itu ditutup dengan keterdiaman. Ada yang sedang miris. Ada yang berprasangka buruk. Ada pula yang sedang merekah sebab dapat 'rezeki'. Siapa yang sebenarnya tahu?


Di bawah pekat langit malam, 6 September 2019

3 Komentar:

Pada 5 September 2019 pukul 09.54 , Blogger Ilham Hamsah mengatakan...

keyen

 
Pada 5 September 2019 pukul 10.03 , Blogger Ms Hidayat mengatakan...

Wah,it's very nice to read yours...

 
Pada 5 September 2019 pukul 23.57 , Blogger storeladdict mengatakan...

Thans a lot

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda